Rabu, 02/09/2009 17:39 WIB
Merangkul Malaysia - sumber detik.com
Ali Mustofa - suaraPembaca
Jakarta - Indonesia dan Malaysia. Dua negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam ini sering kali mengalami kerenggangan hubungan. Belum hilang dari pemberitaan media, sebagaimana diberitakan bahwa Malaysia telah mengklaim kepemilikan beberapa aset kebudayaan milik Indonesia, tak pelak hal itu membuat panas kuping sebagian masyarakat Indonesia.
Bahkan, sampai ada yang menggalang dukungan untuk menyatakan perang terhadap Malaysia dengan semboyannya "Ganyang Malingsia". Seperti halnya dilakukan oleh segelintir orang yang tergabung dalam Komonitas Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) beberapa waktu lalu di kantor PDIP lama di Jl Diponegoro Jakarta Pusat (detik.com, 30/8/2009).
Tidak sedikit terdengar selentingan-selentingan warga yang menghujat dan ingin sekali adu jotos dengan negara yang berbahasa melayu itu. Tari pendet, angklung, keris, reog Ponorogo, kain batik, lagu kebangsaan, sampai masalah kedaulatan ambalat disebut-sebut sebagai pemicu permasalahan ini.
Emosi masyarakat semakin meradang setelah beberapa media menyuguhkan video adegan penganiayaan sadis yang dilakukan oleh oknum warga Malaysia terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di sana. Ditambah lagi dengan beredarnya situs di internet yang berisi tentang penghinaan dan pelecehan terhadap Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang diplintir liriknya.
Benar-benar membuat suasana semakin panas. Walaupun belum diketahui secara pasti siapa di balik situs tersebut. Posting-an tertanggal 28 Juli 2009 memuat soal Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang diplesetkan. Dalam forum yang diberi judul Lagu Kebangsaan Indonesial tersebut, seseorang dengan nama Indonsial mem-posting teks lagu Indonesia Raya yang diplesetkan menjadi Indonesial.
Muslim Adalah Saudara
Sebagaimana diketahui Indonesia dan Malaysia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Allah SWT mengisyaratkan bahwa setiap mukmin adalah saudara sebagaimana dalam firman-Nya:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat" [QS. Al-Hujurat: 10]
Walaupun realitasnya kita hidup bersuku-suku maupun berbangsa-bangsa, berbeda bahasa, dan warna kulit, tidak dibenarkan untuk saling mengunggulkan, bahkan saling berperang satu dengan yang lainnya atas dasar ashabiyah. Karena yang membedakan antara kita hanyalah iman dan taqwanya, bukan ras, suku, bangsa, atau yang lainnya. Dan, perlu diketahui, mereka pernah lama hidup dalam satu naungan negara khilafah.
Allah SWT telah memperingatkan:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" [Al Hujurat : 13]
Rasulullah SAW juga melarang keras sikap ashabiyah (Nasionalisme dan tribalisme) seperti itu. Sebagaimana yang tercermin dalam sabdanya:
"Bukan termasuk Ummatku orang yang mengajak pada Ashabiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar Ashabiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah" (HR Abu Dawud).
Belajar dari Sirah
Sebenarnya kasus pertikaian yang dialami oleh Indonesia dan Malaysia ini hampir sama seperti kisah semasa hidup Rasulullah SAW. Di mana salah seorang tokoh Yahudi yang bernama Syas bin Qais yang sangat benci dengan bersatunya dua suku besar penghuni kota Madinah Aus dan Khazraj dalam ikatan Islam, membuat makar dengan mengirim seorang penyair agar membacakan syair-syair Arab Jahiliyah yang biasa mereka pakai dalam perang Buats. Perang Buats adalah perang yang terjadi selama 120 tahun (Ibnu Ishaq didalam Tafsir Al Mawardi).
Penyair suruhan Syas berhasil mempengaruhi jiwa sekumpulan kaum Anshar dari kalangan Aus dan Khazraj di suatu tempat di kota Madinah. Syair jahiliyah tersebut mengantarkan mereka kepada perasaan kebanggaan dan kepahlawanan mereka di masa Jahiliyah dalam medan perang Buats. Perasaan kebangsaan dan kepahlawanan kaum Aus maupun Khazraj itu memuncak hingga mereka lupa bahwa mereka sesama muslim. Yang Aus merasa Aus dan yang Khazraj merasa Khazraj. Dalam puncak emosi perang itu mereka akhirnya berteriak-teriak histeris "Senjata-senjata!"
Dalam situasi kritis itulah, Rasulullah datang bersama pasukan kaum muslimin untuk melerai mereka. Rasulullah SAW bersabda:
"Wahai kaum muslimin, apakah karena seruan jahiliyah ini (kalian hendak berperang)
padahal aku ada di tengah-tengah kalian. Setelah Allah memberikan hidayah Islam kepada kalian. Dan, dengan Islam itu Allah muliakan kalian dan dengan Islam Allah putuskan urusan kalian pada masa Jahiliyyah. Dan, dengan Islam itu Allah selamatkan kalian dari kekufuran. Dan, dengan Islam itu Allah pertautkan hati-hati kalian. Maka kaum Anshar itu segera menyadari bahwa perpecahan mereka itu adalah dari syaithan dan tipuan kaum kafir sehingga mereka menangis dan berpelukan satu sama lain. Lalu mereka berpaling kepada Rasulullah SAW. dengan senantiasa siap mendengar dan taat ... " (Sirah Ibnu Hisyam Juz 1/555).
Kesimpulan
Masalah kebudayaan asalkan tidak bertentangan dengan syariah itu tidak mengapa. Milik Indonesia juga milik Malaysia. Milik Malaysia juga milik Indonesia. Toh, kepemilikan hakiki adalah kepunnyaan Allah SWT.
Kaum Muslim adalah saudara. Baik yang berada di Indonesia, Malaysia, Brunei, Irak, dan di negeri-negeri lainnya tidak dibenarkan untuk saling berperang satu dengan yang lainnya. Umat Islam harus waspada dengan politik "devide et impera" yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam. Mereka sadar betul jika Islam bersatu maka Islam akan menjadi kekuatan yang sangat luar biasa. Baik secara geopolitik maupun secara geoekonomi. Itu berarti penjajahan mereka akan berakhir.
Sudah semestinya kita rangkul Malaysia. Bersatu dalam ikatan akidah Islam. Dalam naungan Khilafah, menjadi negara besar, kuat, bermartabat, dan yang terpenting mendapatkan ridho-Nya. Wallohu alam bi ash showab.
Ali Mustofa
Gang Nusa Indah Cemani Grogol
Sukoharjo Surakarta
alie_jawi@yahoo.com
02719272791
Monday, September 14, 2009
Sheila Majid
Ini dia, penyanyi Jazz kesukaan saya. Indonesia dan Malaysia sejak zaman orang tua saya selalu bergilir saling mempengaruhi satu sama lain. Ingat tahun 80han dengan Amy Search dan Isabela-nya? Dan Nggak usah kita ngomongin band-band Indonesia yang ngetop di Malaysia, tahukah anda Broery dan Dewi Yull sangat di gemari di Malaysia? Bagaimana dengan D'lloyd menyanyikan 'Semalam di Malaysia'? Yang tahun 1975 dijadikan film dengan judul yang sama, yang di bintangi Sam Bimbo dan Rina Hasyim. Kalau mau lihat kebelakang lagi, Sudirman, penyanyi Malaysia juga pernah jaya di Indonesia.
Tapi yang ini favofrit saya. Sheila Majid. Di tahun 1987 Sheila memenangkan Pialah BASF Indonesia dalam kategori penyanyi wanita R & B terbaik. Sebuah anugrah yang tidak pernah di menangkan oleh non-Indonesia. Sebelum Siti Nurhaliza, Sheila Majid udah duluan merebut hati saya. Walaupun waktu itu saya masih SD.
Selamat menikmati!
Tapi yang ini favofrit saya. Sheila Majid. Di tahun 1987 Sheila memenangkan Pialah BASF Indonesia dalam kategori penyanyi wanita R & B terbaik. Sebuah anugrah yang tidak pernah di menangkan oleh non-Indonesia. Sebelum Siti Nurhaliza, Sheila Majid udah duluan merebut hati saya. Walaupun waktu itu saya masih SD.
Selamat menikmati!
Labels:
harvey malaiholo,
musik,
sheila majid
Tari Pendet
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Budaya Hindu sudah mengakar di Indonesia terutama di Jawa dan Bali, dan adalah salah satu 'kekayaan' bangsa Indonesia yang sangat berharga. Yang ingin saya ketengahkan adalah logika dibalik semua ini.
Pertanyaan saya adalah: Apakah Malaysia benar-benar dengan sengaja mencuri Tari Pendet?
Mungkinkah semua ini adalah sebuah kesalahfahaman? ke-tidak sengajaan? Untungnya saya tidak harus menguraikan semuanya di sini. Sudah ada orang lain yang telah berjasa mencari tahu kebenaran hal ini.
Malaysia Claimed Tari Pendet — A Big Misunderstanding?
Artikel di atas di tulis dalam bahasa Inggris (oleh orang Indonesia). Tapi Penulis juga mencantumkan sumber berita yang semuanya berbahasa Indonesia:
http://www.detiknews.com/read/2009/08/24/203214/1188895/10/deplu-ada-upaya-korektif-dari-pihak-malaysia?991102605
http://nasional.vivanews.com/news/read/84838-budayawan_malaysia_sesalkan_klaim_tari_pendet
http://news.okezone.com/read/2009/08/24/1/250814/malaysia-mengaku-tak-pernah-klaim-tari-pendet
Kosongkan hati dari segala prasangka dan emosi. Gelas yang tertelungkup tidak bisa di gunakan untuk menampung air. : )
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Di atas adalah paragraf pembuka Artikel mengenai Tari Pendet dari Wikipedia. Kata-kata yang langsung menarik perhatian saya adalah, 'tari pemujaan' dan 'sakral religius'. Lalu mengapa Malaysia yang mayoritas bergama Islam tiba-tiba ingin merebut tarian yang jelas-jelas berbau Hindu ini? Mengapa juga umat Islam di Indonesia dengan cepat dan begitu mudahnya bisa membenci umat Islam di Malaysia karena tarian ini?Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi (? - 1967).
Budaya Hindu sudah mengakar di Indonesia terutama di Jawa dan Bali, dan adalah salah satu 'kekayaan' bangsa Indonesia yang sangat berharga. Yang ingin saya ketengahkan adalah logika dibalik semua ini.
Pertanyaan saya adalah: Apakah Malaysia benar-benar dengan sengaja mencuri Tari Pendet?
Mungkinkah semua ini adalah sebuah kesalahfahaman? ke-tidak sengajaan? Untungnya saya tidak harus menguraikan semuanya di sini. Sudah ada orang lain yang telah berjasa mencari tahu kebenaran hal ini.
Malaysia Claimed Tari Pendet — A Big Misunderstanding?
Artikel di atas di tulis dalam bahasa Inggris (oleh orang Indonesia). Tapi Penulis juga mencantumkan sumber berita yang semuanya berbahasa Indonesia:http://www.detiknews.com/read/2009/08/24/203214/1188895/10/deplu-ada-upaya-korektif-dari-pihak-malaysia?991102605
http://nasional.vivanews.com/news/read/84838-budayawan_malaysia_sesalkan_klaim_tari_pendet
http://news.okezone.com/read/2009/08/24/1/250814/malaysia-mengaku-tak-pernah-klaim-tari-pendet
Kosongkan hati dari segala prasangka dan emosi. Gelas yang tertelungkup tidak bisa di gunakan untuk menampung air. : )
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Why I made this blog,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
There has been a request for me to write in English. I think this is good, not only this message would reach a wider audience, this blog would provide an insight for this neighbourly spat between Malaysia & Indonesia for the English speaking world.
I'm not going to transliterate what I already wrote in Indonesian word-by-word. I'll just write whatever comes naturally. So here it goes.
Lately there has been a series of events that lead to worsening of relationship between Indonesia & Malaysia. This is a source much sadness to me, an Indonesian Malay. I am Indonesian, of a Malay ethnicity, since my parents are from Sumatra. The fact that there are Malays in Indonesia and generations of Indonesians (such as Javanese & Bugis) in Malaysia adds to the irony. Our shared culture is a matter of fact, older than our countries. The word 'Indonesia' is not even Indonesian, its greek. We are a newly created country. Only one generation old. My grandfather lived in what is now Singapore (and a period of time part of Malaysia) and married a woman from Pekalongan, in Java. And there are just so many people from all over Indonesia in Malaysia. But Indonesia did not even exist then whey migrated.
There has been a lot of underlying issues that lead to this falling out. But the trigger seems to be the cultural war of ownership of 'Tari Pendet'. A clip of the dance was shown on A tourism Ad for 'Enigmatic Malaysia' on Discovery Channel. This sparked accusations that Malaysia was actively 'stealing' Indonesian culture and advertising them as theirs.
Although my personal opinion is that there has been many contributing factor leading yo to this. This did not happen simply because of the dance. Indonesians did not become suddenly protective of one of the thousands of traditional heritage that we often take for granted. I could not remember the last time Tari Pendet was actively advertised and promoted on Indonesian TV. There are bigger issues. Issues that had been ignored and was left to fester by our respective governments.
The bigger issue, in my opinion, is Indonesian workers in Malaysia. There are currently 1,8 million Indonesians living in Malaysia. A vast majority working as maids and menial workers. One does not become a foreign worker willingly. They do so because Malaysia offers a better livelihood for them. Indonesians have to admit that Malaysia has a more vibrant economy that attracts these workers. These workers also have a important role in building Malaysia's infrastructure and economy. This is a purely mutually symbiotic relationship.
However, this also created an impression that Indonesians are treated like 2nd class citizens in Malaysia. Some of these workers arrive illegally, and unable to find employment, a minority of them resorted to criminal activities. This often made headlines in the Malaysian media. The term 'Indon' is coined. Malaysians used them casually, innocently, as a short form for 'Indonesian'. But the Indonesians themselves never use them, and prefer the short form 'Indo' instead. There is nothing linguistically offensive about the word 'Indon', it's just that it has a negative conotation. That the term is reserved only for maids, labourers and criminals.
On the other hand, there are many reports of exploitation of workers and abuses to Indonesian maids. These problem had been around since the 80s and both governments haven't been making much progress.
The Tari Pendet case is just the latest of a long line of disagreements. One of the most notable is the territorial dispute of the Ambalat regions that contained rich natural resources. Then there are further accusations of plagiarisms of Indonesian music by Malaysian artists, another cultural theft of the 'Reog Ponorogo' dance that was advertised in Malaysia's Tourism website. The webiste was soon defaced by Indonesian hackers. Since then, hackers from both countries had been actively involved in defacing each other's websites. And there is also a report of a malaysian website that made fun of Indonesia's National Anthem lyrics. And then theres www.malingsia.com and its best friend: www.ihateindon.blogspot.com. The list goes on.
To make things worse, there's the media. Indonesian media and Malaysian media its vastly different. Theres almost no control over Indonesian media & Malaysian media is tightly controlled. The Indonesians know too much, the Malaysians know too little. Indonesians hates Malaysians because of pendet, tkw, ambalat, manohara, etc. Malaysians just hates back because they think Indonesia is paranoid and do not see the significance of those issues. There is just no meeting point between the two medias. If it wasnt so sad, it would be funny.
Now, there's just been too much hate going around, and I just can't stand this. First of all, I have many Malaysian friends. Malaysians are the closest thing to Indonesians, naturally when I'm overseas, I would look for Malaysians for company. We eat together, we pray jamaah, we play soccer together, we sing a long to Sheila on 7 songs, and we get infatuated by Dian Sastro in the Movie 'Ada Apa Dengan Cinta'. Indonesia's booming pop-culture in the late 90s has been a source of pride and joy for me. I'm proud that young Malaysians enjoy our music and movies. I hope in this way, they would have a better understanding of Indonesians and our way of thinking. Having Malaysian friends only makes me more Indonesian. Because the more I get to know them, the more I realise we came from the same stock. Share the same culture. Have the same tastebuds. Have the same manners.
Now, I love my country. That is why I made this blog. Because we are blind to see that Indosesia & Malaysia need each other. Together we are better and stronger. I pray we won't be as devided as the Middle East. Or India & Pakistan, or North & South Korea. Only when our national soccer team play against each other we are allowed to take sides, hehehe.
I've been babbling too much. Back to the point of this blog.
Ok, this blog is my endavour to find common grounds between Indonesians and Malaysians. While I acknowledge that as neighbours we bound to have disagreements, I will focus only on what we have in common. And I'm going to celebrate that.
This blog maybe small, maybe an insignificant voice amongst the trillions of haters out there. But at least its there. And I know I am not alone.
There is a thin line between a misguided Patriotism and Racism. Let us not fall into that trap.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
There has been a request for me to write in English. I think this is good, not only this message would reach a wider audience, this blog would provide an insight for this neighbourly spat between Malaysia & Indonesia for the English speaking world.
I'm not going to transliterate what I already wrote in Indonesian word-by-word. I'll just write whatever comes naturally. So here it goes.
Lately there has been a series of events that lead to worsening of relationship between Indonesia & Malaysia. This is a source much sadness to me, an Indonesian Malay. I am Indonesian, of a Malay ethnicity, since my parents are from Sumatra. The fact that there are Malays in Indonesia and generations of Indonesians (such as Javanese & Bugis) in Malaysia adds to the irony. Our shared culture is a matter of fact, older than our countries. The word 'Indonesia' is not even Indonesian, its greek. We are a newly created country. Only one generation old. My grandfather lived in what is now Singapore (and a period of time part of Malaysia) and married a woman from Pekalongan, in Java. And there are just so many people from all over Indonesia in Malaysia. But Indonesia did not even exist then whey migrated.
This imaginary lines drawn by the colonials, blinded us from who we really are.
There has been a lot of underlying issues that lead to this falling out. But the trigger seems to be the cultural war of ownership of 'Tari Pendet'. A clip of the dance was shown on A tourism Ad for 'Enigmatic Malaysia' on Discovery Channel. This sparked accusations that Malaysia was actively 'stealing' Indonesian culture and advertising them as theirs.
Although my personal opinion is that there has been many contributing factor leading yo to this. This did not happen simply because of the dance. Indonesians did not become suddenly protective of one of the thousands of traditional heritage that we often take for granted. I could not remember the last time Tari Pendet was actively advertised and promoted on Indonesian TV. There are bigger issues. Issues that had been ignored and was left to fester by our respective governments.
The bigger issue, in my opinion, is Indonesian workers in Malaysia. There are currently 1,8 million Indonesians living in Malaysia. A vast majority working as maids and menial workers. One does not become a foreign worker willingly. They do so because Malaysia offers a better livelihood for them. Indonesians have to admit that Malaysia has a more vibrant economy that attracts these workers. These workers also have a important role in building Malaysia's infrastructure and economy. This is a purely mutually symbiotic relationship.
However, this also created an impression that Indonesians are treated like 2nd class citizens in Malaysia. Some of these workers arrive illegally, and unable to find employment, a minority of them resorted to criminal activities. This often made headlines in the Malaysian media. The term 'Indon' is coined. Malaysians used them casually, innocently, as a short form for 'Indonesian'. But the Indonesians themselves never use them, and prefer the short form 'Indo' instead. There is nothing linguistically offensive about the word 'Indon', it's just that it has a negative conotation. That the term is reserved only for maids, labourers and criminals.
On the other hand, there are many reports of exploitation of workers and abuses to Indonesian maids. These problem had been around since the 80s and both governments haven't been making much progress.
This eventually created the antagonistic stereotypes: That Malaysians are arrogant and selfish, and Idonesians are backwards and uneducated.These sentiments are never far from both nations minds and would continually mar our arguments, no matter how small the matter is, even if we hate to admit it.
The Tari Pendet case is just the latest of a long line of disagreements. One of the most notable is the territorial dispute of the Ambalat regions that contained rich natural resources. Then there are further accusations of plagiarisms of Indonesian music by Malaysian artists, another cultural theft of the 'Reog Ponorogo' dance that was advertised in Malaysia's Tourism website. The webiste was soon defaced by Indonesian hackers. Since then, hackers from both countries had been actively involved in defacing each other's websites. And there is also a report of a malaysian website that made fun of Indonesia's National Anthem lyrics. And then theres www.malingsia.com and its best friend: www.ihateindon.blogspot.com. The list goes on.
To make things worse, there's the media. Indonesian media and Malaysian media its vastly different. Theres almost no control over Indonesian media & Malaysian media is tightly controlled. The Indonesians know too much, the Malaysians know too little. Indonesians hates Malaysians because of pendet, tkw, ambalat, manohara, etc. Malaysians just hates back because they think Indonesia is paranoid and do not see the significance of those issues. There is just no meeting point between the two medias. If it wasnt so sad, it would be funny.
Now, there's just been too much hate going around, and I just can't stand this. First of all, I have many Malaysian friends. Malaysians are the closest thing to Indonesians, naturally when I'm overseas, I would look for Malaysians for company. We eat together, we pray jamaah, we play soccer together, we sing a long to Sheila on 7 songs, and we get infatuated by Dian Sastro in the Movie 'Ada Apa Dengan Cinta'. Indonesia's booming pop-culture in the late 90s has been a source of pride and joy for me. I'm proud that young Malaysians enjoy our music and movies. I hope in this way, they would have a better understanding of Indonesians and our way of thinking. Having Malaysian friends only makes me more Indonesian. Because the more I get to know them, the more I realise we came from the same stock. Share the same culture. Have the same tastebuds. Have the same manners.
Now, I love my country. That is why I made this blog. Because we are blind to see that Indosesia & Malaysia need each other. Together we are better and stronger. I pray we won't be as devided as the Middle East. Or India & Pakistan, or North & South Korea. Only when our national soccer team play against each other we are allowed to take sides, hehehe.
I've been babbling too much. Back to the point of this blog.
Ok, this blog is my endavour to find common grounds between Indonesians and Malaysians. While I acknowledge that as neighbours we bound to have disagreements, I will focus only on what we have in common. And I'm going to celebrate that.
This blog maybe small, maybe an insignificant voice amongst the trillions of haters out there. But at least its there. And I know I am not alone.
The Quran says, all Muslims are brothers. If it is so, then Indonesians and Malaysians are definitely twins.
There is a thin line between a misguided Patriotism and Racism. Let us not fall into that trap.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dokumen Bersejarah: Perjanjian Persahabatan Antara Republik Indonesia dan Malaysia
Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU)
Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Nomor: 1 TAHUN 1971 (1/1971)
Tanggal: 10 MARET 1971 (JAKARTA)
Sumber: LN 1971/15; TLN NO. 2956
Tentang: PERJANJIAN PERSAHABATAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN MALAYSIA
Indeks: REPUBLIK INDONESIA MALAYSIA. PERJANJIAN PERSAHABATAN.
Presiden Republik Indonesia,
Menimbang:
a. bahwa Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu tertanggal 17 April 1959 telah diperbaharui dengan Perjanjian Persahabatan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Malaysia tertanggal 17 Maret 1970;
b. bahwa Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Malaysia yang baru perlu disetujui dengan Undang-undang;
c. bahwa dengan mulai berlakunya Undang-undang tentang Perjanjian Persahabatan yang baru, maka Undang-undang tentang Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu tertanggal 17 April 1959 perlu dicabut.
b. bahwa Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Malaysia yang baru perlu disetujui dengan Undang-undang;
c. bahwa dengan mulai berlakunya Undang-undang tentang Perjanjian Persahabatan yang baru, maka Undang-undang tentang Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu tertanggal 17 April 1959 perlu dicabut.
Mengingat:
1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 11 dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;
2. Amanat Presiden Republik Indonesia kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat tanggal 22 Agustus 1960 No. 2826/HK/1960.
2. Amanat Presiden Republik Indonesia kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat tanggal 22 Agustus 1960 No. 2826/HK/1960.
Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong.
MEMUTUSKAN:
Dengan mencabut Undang-undang No. 4 Tahun 1960 tentang Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu (Lembaran-Negara Republik Indonesia tahun 1960 No. 15; Tambahan Lembaran-Negara No. 1936).
Menetapkan:
Undang-undang tentang Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Malaysia.
Pasal 1
Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Malaysia tertanggal 17 Maret 1970, yang salinannya dilampirkan pada Undang-undang ini, dengan ini disetujui.
Pasal 2
Perjanjian tersebut diatas mulai berlaku pada tanggal pertukaran Piagam Pengesahan yang akan dilakukan di Jakarta.
Pasal 3
Undang-undang ini mulai berlaku pada hari tanggal diundangkan.
Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta,
pada tanggal 10 Maret 1971,
Presiden Republik Indonesia,
SOEHARTO
Jenderal T.N.I.
Diundangkan di Jakarta,
pada tanggal 10 Maret 1971.
Sekretaris Negara Republik Indonesia,
pada tanggal 10 Maret 1971.
Sekretaris Negara Republik Indonesia,
ALAMSJAH
Letnan Jenderal T.N.I.
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
No. 1 TAHUN 1971
tentang
PERJANJIAN PERSAHABATAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN MALAYSIA.
I. UMUM.
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. XII/MPRS/1966, menegaskan kembali landasan kebijaksanaan politik luar negeri Republik Indonesia yang berpokok antara lain sebagai berikut :
1. Landasan politik luar negeri dalah Pancasila sebagai dasar idiil dan Undang-undang Dasar 1945 sebagai dasar konstitusionil-strukturil;
1. Landasan politik luar negeri dalah Pancasila sebagai dasar idiil dan Undang-undang Dasar 1945 sebagai dasar konstitusionil-strukturil;
2. Sifatnya ialah bebas-aktif, anti imperialisme dan kolonialisme serta mengabdi kepada kepentingan nasional dan amanat penderitaan rakyat. Ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial;
3. Tujuannya ialah mempertahankan kebebasan Indonesia terhadap imperialisme dan kolonialisme sebagai negara kesatuan yang demokratis dengan keutuhan wilayah dari Sabang sampai Merauke;
Membentuk masyarakat yang adil dan makmur; menciptakan persahabatan yang baik dengan semua negara di dunia atas dasar kerja sama membentuk dunia yang bersih dari imperialisme dan kolonialisme menuju kepada perdamaian dunia yang sempurna.
4. Pedoman perjuangan politik luar negeri didasarkan atas Dasa Sila Bandung, prinsip kerjasama regional, pemulihan kembali kepercayaan luar negeri dan pelaksanaan kebijaksanaan yang luwes serta pengarahannya untuk kepentingan nasional dengan prioritas kepentingan ekonomi rakyat.
Di samping itu Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara menegaskan dalam Notanya No. NOTA I/MPRS/1966 tanggal 5 Juli 1966 kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong bahwa yang dimaksud dengan politik luar negeri yang bebas dan aktif bukanlah politik yang netral atau isolasionis, tetapi "politik luar negeri yang tidak mengikatkan diri pada salah satu blok dunia atau ikatan yang bersifat militer dan sekaligus aktif berjuang untuk hapusnya kolonialisme dalarn segala bentuk dan manifestasinya demi tercapainya perdamaian dunia."
Selanjutnya dalam nota tersebut ditegaskan pula bahwa prinsip hidup berdampingan secara damai dan politik tetangga baik harus ditegaskan dan dilaksanakan sesuai dengan keinginan Indonesia untuk bersahabat dengan negara mana pun tanpa memandang sistim sosial yang berbeda atas dasar saling harga-menghargai secara sama derajat, saling menguntungkan, saling menghormati kedaulatan masing-masing dan bersih dari setiap kemungkinan saing intervensi.
Dengan demikian jelaslah bahwa hidup berdampingan secara damai dan bertetangga baik adalah salah satu unsur penting dalam politik luar negeri kita.
Malaysia adalah salah satu negara tetangga kita yang terdekat. Antara kedua bangsa ini sudah terjalin ikatan-ikatan sejarah, persamaan rumpun bangsa dan persamaan kebudayaan sejak dahulu kala. Di samping itu Indonesia dan Malaysia mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dalam bidang perdagangan karena kedua negara merupakan penghasil karet dan timah terbesar di dunia.
Dengan demikian Indonesia dan Malaysia mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dalam berbagai lapangan hidup, baik yang berhubungan dengan soal-soal internasional maupun yang berhubungan dengan soal-soal nasional dalam negeri.
Bagi kepentingan pembangunan nasional di segala bidang dengan titik berat pada usaha menyukseskan dan mengamankan pelaksanaan pelita, kita senantiasa berusaha menciptakan suatu "area of goodwill, of friendship and cooperation" paling sedikit yang meliputi negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Usaha kita untuk menciptakan kerjasama regional di Asia Tenggara lebih jauh lagi ditujukan pada terciptanya suatu Asia Tenggara yang kedudukan ekonominya cukup kuat dan stabil, hal mana akan merupakan senjata yang berharga untuk membersihkan wilayah Asia Tenggara dari pengaruh-pengaruh negatif dari luar.
Mengingat faktor-faktor tersebut di atas, Pemerintah Republik Indonesia merasa perlu meletakkan suatu dasar yang kuat untuk lebih memperkokoh persahabatan, perdamaian serta kerjasama mengenai berbagai masalah yang dihadapi kedua negara, sesuai dengan jiwa dan azas-azas Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa. Dasasila Konperensi Bandung dan Deklarasi Bangsa-bangsa Asia Tenggara bulan Agustus 1967.
Sehubungan dengan hal-hal di atas maka Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Malaysia telah menandatangani Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Malaysia di Kualalumpur pada tanggal 17 Maret 1970, yaitu pada waktu kunjungan kenegaraan Bapak Presiden Soeharto ke Malaysia.
Adapun Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Malaysia ini pada dasarnya merupakan pembaharuan dari Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu yang juga ditandatangani di Kualalumpur, pada tangal 17 April 1959. Oleh karena itu isinya pada pokoknya adalah sama.
Untuk mencapai kerjasama yang seerat-eratnya dan seluas-luasnya dalam bidang-bidang kebudayaan, kecendekiawanan, ilmu pengetahuan pendidikan dan lain-lainnya, Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Malaysia memuat pasal-pasal yang memungkinkan kedua belah pihak, jika dianggap perlu untuk mengadakan persetujuan tersendiri.
Demikian pula Perjanjian Persahabatan tersebut memuat pasal-pasal yang memungkinkan kedua belah pihak dapat mengadakan persetujuan-persetujuan tersendiri atas dasar timbal-balik mengenai masalah-masalah hubungan konsuler, perdagangan, ekonomi, komunikasi dan masalah-masalah lainnya yang menyangkut kepentingan bersama.
Sekiranya perlu dikemukakan bahwa Malaysia telah meratifisi perjanjian persahabatan di atas pada permulaan Agustus 1970.
II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL.
Cukup jelas.
(Termasuk Lembaran-Negara Republik Indonesia
tahun 1971 No. 15).
tahun 1971 No. 15).
--------------------------------
CATATAN
Di dalam dokumen ini terdapat lampiran dalam format gambar.
Kutipan: LEMBARAN NEGARA DAN TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA TAHUN 1971 YANG TELAH DICETAK ULANG
Mengapa blog ini saya buat...
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Berita di Detik.com - Ada berita mengenai posko 'Ganyang Malaysia' yang 'mengisi' anggotanya dengan Ilmu Kebal dan siap dikirim untuk tempur. ('Ilmu Kebal' yang berbau syirik, 'Ganyang Malaysia' yang mayoritas muslim di saat bulan Ramadhan. Saya tidak baca berita itu, karena saya menganggap semua itu lelucon.)
Kaskus.us. - Hmmm, banyak thread tentang 'Malingsia'. Kaskuser emang suka iseng. Di forum manapun di dunia maya atau bukan, mentalitas kelompok atau pack mentality terkadang memang kejam. Pengeroyokan massa juga bisa terjadi di internet. Tidak percaya? Tanya saja Roy Suryo.
Facebook.com - Astaga, ternyata banyak teman-teman saya sendiri yang facebook statusnya anti Malaysia.
Ada pepatah "tak kenal maka tak sayang" yang sama2 dikenal di Malaysia dan di Indonesia. (Mungkinkah suatu saat pepatah ini juga akan di copyright-kan dan statusnya diperebutkan?)
Kebetulan saya punya banyak teman Malaysia. Kebetulan hubungan kami sangat akrab. Kebetulan kami pernah shalat berjamaah, main bola, makan bersama, gemar mendengarkan Sheila on 7 & Maliq D'essentials, dan waktu SMP, sama-sama kasmaran dengan Dian Sastro.
Tapi apakah dengan mempunyai teman-teman Malaysia akan membuat rasa cinta saya pada Indonesia berkurang?
Tidak, malah sebaliknya. Sejak akhir tahun 90han pop-culture Indonesia begitu di gemari di Malaysia. Hal ini adalah sesuatu yang positif. Karena yang mengkonsumsi pop-culture ini adalah generasi muda Malaysia. Yang nantinya akan memerintah Malaysia. Saya bersyukur dengan perkembangan ini, karena generasi muda ini, kini mempunyai pegertian yang lebih mendalam tentang budaya kepribadian bangsa Indonesia. Mungkin dengan cara ini warga Indonesia di Malaysia akan lebih disegani dan dimengerti. Persahabatan kita akan menjadi lebih erat. Itulah yang saya harapkan di hati kecil saya.
Ada 1,8 juta rakyat Indonesia di Malaysia. Kebanyakan sebagai TKI. Ada juga yang illegal. Ada juga yang diantaranya tidak berhasil mencari pekerjaan dan tempat tinggal, dan akhirnya terjerumus ke dalam aktivitas kriminal. Hal ini fakta, suka atau tidak.
TKI itu bukan ekspatriat. Jadi TKI itu terpaksa, karena situasi di negara sendiri mendorong orang-orang tersebut mencari penghidupan yang lebih baik di luar. Kalau negara makmur, tidak ada akan ada TKI, adanya ekspatriat. TKI bukan di Malaysia saja, tapi di Timur Tengah, Hong Kong, Singapura, dan di banyak negara lain. TKI terkadang di perlakukan dengan buruk. Bukan hanya di Malaysia saja. Pekerja asing di Timur Tengah juga sering di aniaya. Bahkan di Indonesia sendiri tidak jarang pembantu di siksa majikan.
TKI juga sering menjadi target pemerasan begitu tiba di bandara, apakah itu oleh oknum petugas, agen, calo, atau supir taksi gadungan. Setidaknya di luar negeri pembantu gajinya lebih besar. Kita harus belajar jujur dan menerima keadaan ini.
Mengapa saya tiba-tiba bicara tentang TKI?
Karena tanpa bantuan Manohara-pun Indonesia dan Malaysia sebenarnya sudah punya serentetetan masalah. TKI adalah salah satunya. Mungkin juga TKI adalah masalah yang paling mendasar. Asal mula mengapa kita tidak suka di panggil 'Indon'. Fenomena TKI membuat kita selalu dipojokkan dengan kenyataan bahwa Malaysia lebih maju dalam segi ekonomi. Karena disaat tetangga-tetangga kita di bangun Mahathir dan Lee Kuan Yew, bapak pembangunan kita adalah Soeharto. Lantas berbondong-bondonglah orang Indonesia bekerja di Malaysia. Di sana, kita merasa menjadi 2nd class. Kita merasa di rendahkan. Dan tidak ada orang yang suka di rendahkan. Walaupun mayoritas orang-orang Malaysia tidak pernah merendah-merendahkan Indonesia.
Lalu bagaimana dengan Ambalat, Nurdin Top, Reog, dan Tari Pendet?
Kebenaran dan fakta sudah tidak penting lagi apabila sudah menyangkut harga diri. Baik untuk pihak Malaysia maupun Indonesia. Semuanya menjadi Indonesia Vs Malaysia.
Siapakah 'mereka'? Pemerintah? Rakyat? Majikan yang mempekerjakan TKI? Orang Jawa yang sudah lama hidup dan lahir di Malaysia? Grup Nasyid Raihan? Siti Nurhaliza?
Stereotype ini memaksa rakyat di kedua negara untuk memilih kubu, apa pun itu masalahnya. Orang Malaysia yang berlomba-lomba mengumpulkan sumbangan di mesjid kita di saat Tsunami dulu kini masuk ke dalam kategori yang sama dengan artis plagiat dan pemilik blog www.ihateindon.blogspot.com
Lalu, TKI jujur yang bekerja keras di Malaysia untuk menghidupi keluarganya sekarang di cap kriminal, di samakan dan dengan pemilik situs www.malingsia.com
Perselisihan antar tetangga adalah hal yang lumrah. Tapi yang saya lihat belakangan ini, masalah yang tadinya spesifik sifatnya kini telah menyusup ke khalayak umum, meracuni rakyat biasa. Rakyat yang cinta tanah air dan tidak ingin martabat negaranya di injak-injak. Rasa cinta atau patriotisme inilah yang disalahgunakan.
Isu-isu teritorial, hukum, dan perbedaan pendapat di antara kedua pemerintah adalah sesuatu yang penting. Sudah tanggung jawab kita untuk mendukung pemerintah dalam hal ini. Apabila Indonesia kalah dalam berdiplomasi, maka kita harus mendesak pemerintah kita untuk bekerja lebih baik. Bukannya menjatuhkan rakyat Malaysia secara keseluruhan. Itulah prinsip saya mengenai hal ini.
Namun blog ini bukan untuk itu. Memang ada perbedaan-perbedaan di antara kita. Tapi kita punya jauh lebih banyak persamaan. Di dalam blog ini saya akan memfokuskan untuk mencari persamaan-persamaan tersebut. Hal-hal yang membuat kita serumpun, bersaudara. Saya yakin, persamaan yang akan saya temukan akan tidak ada habisnya.
Janganlah perselisihan ini dibiarkan berkepanjangan. Pemerintah Indonesia dan Malaysia mempunyai tanggung jawab untuk merapatkan kembali hubungan yang telah rusak ini. Tapi apabila pemerintah tidak bisa diandalakan, biar rakyat yang bicara.
Biarpun suara yang keluar dari blog ini kecil dibanding ribuan suara kebencian, cacian dan makian "ihateindon" dan "malingsia", saya yakin, saya tidak sendirian.
Tak kenal maka tak sayang.
Kalau setelah kenal masih benci,
Anda belum benar-benar kenal.
Terima kasih,
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kalau sesama Muslim itu bersaudara. Apalagi Indonesia dengan Malaysia!?Hari ini saya membuka-buka situs internet langganan saya tiap hari: Detik.com, Kaskus.us, Facebook.com. Di kesemua situs itu, isu yang paling sering saya lihat adalah masalah hubungan Indonesia & Malaysia yang semakin buruk belakangan ini.
Berita di Detik.com - Ada berita mengenai posko 'Ganyang Malaysia' yang 'mengisi' anggotanya dengan Ilmu Kebal dan siap dikirim untuk tempur. ('Ilmu Kebal' yang berbau syirik, 'Ganyang Malaysia' yang mayoritas muslim di saat bulan Ramadhan. Saya tidak baca berita itu, karena saya menganggap semua itu lelucon.)
Kaskus.us. - Hmmm, banyak thread tentang 'Malingsia'. Kaskuser emang suka iseng. Di forum manapun di dunia maya atau bukan, mentalitas kelompok atau pack mentality terkadang memang kejam. Pengeroyokan massa juga bisa terjadi di internet. Tidak percaya? Tanya saja Roy Suryo.
Facebook.com - Astaga, ternyata banyak teman-teman saya sendiri yang facebook statusnya anti Malaysia.
Ada pepatah "tak kenal maka tak sayang" yang sama2 dikenal di Malaysia dan di Indonesia. (Mungkinkah suatu saat pepatah ini juga akan di copyright-kan dan statusnya diperebutkan?)
Kebetulan saya punya banyak teman Malaysia. Kebetulan hubungan kami sangat akrab. Kebetulan kami pernah shalat berjamaah, main bola, makan bersama, gemar mendengarkan Sheila on 7 & Maliq D'essentials, dan waktu SMP, sama-sama kasmaran dengan Dian Sastro.
Tapi apakah dengan mempunyai teman-teman Malaysia akan membuat rasa cinta saya pada Indonesia berkurang?
Tidak, malah sebaliknya. Sejak akhir tahun 90han pop-culture Indonesia begitu di gemari di Malaysia. Hal ini adalah sesuatu yang positif. Karena yang mengkonsumsi pop-culture ini adalah generasi muda Malaysia. Yang nantinya akan memerintah Malaysia. Saya bersyukur dengan perkembangan ini, karena generasi muda ini, kini mempunyai pegertian yang lebih mendalam tentang budaya kepribadian bangsa Indonesia. Mungkin dengan cara ini warga Indonesia di Malaysia akan lebih disegani dan dimengerti. Persahabatan kita akan menjadi lebih erat. Itulah yang saya harapkan di hati kecil saya.
Ada 1,8 juta rakyat Indonesia di Malaysia. Kebanyakan sebagai TKI. Ada juga yang illegal. Ada juga yang diantaranya tidak berhasil mencari pekerjaan dan tempat tinggal, dan akhirnya terjerumus ke dalam aktivitas kriminal. Hal ini fakta, suka atau tidak.
TKI itu bukan ekspatriat. Jadi TKI itu terpaksa, karena situasi di negara sendiri mendorong orang-orang tersebut mencari penghidupan yang lebih baik di luar. Kalau negara makmur, tidak ada akan ada TKI, adanya ekspatriat. TKI bukan di Malaysia saja, tapi di Timur Tengah, Hong Kong, Singapura, dan di banyak negara lain. TKI terkadang di perlakukan dengan buruk. Bukan hanya di Malaysia saja. Pekerja asing di Timur Tengah juga sering di aniaya. Bahkan di Indonesia sendiri tidak jarang pembantu di siksa majikan.
TKI juga sering menjadi target pemerasan begitu tiba di bandara, apakah itu oleh oknum petugas, agen, calo, atau supir taksi gadungan. Setidaknya di luar negeri pembantu gajinya lebih besar. Kita harus belajar jujur dan menerima keadaan ini.
Mengapa saya tiba-tiba bicara tentang TKI?
Karena tanpa bantuan Manohara-pun Indonesia dan Malaysia sebenarnya sudah punya serentetetan masalah. TKI adalah salah satunya. Mungkin juga TKI adalah masalah yang paling mendasar. Asal mula mengapa kita tidak suka di panggil 'Indon'. Fenomena TKI membuat kita selalu dipojokkan dengan kenyataan bahwa Malaysia lebih maju dalam segi ekonomi. Karena disaat tetangga-tetangga kita di bangun Mahathir dan Lee Kuan Yew, bapak pembangunan kita adalah Soeharto. Lantas berbondong-bondonglah orang Indonesia bekerja di Malaysia. Di sana, kita merasa menjadi 2nd class. Kita merasa di rendahkan. Dan tidak ada orang yang suka di rendahkan. Walaupun mayoritas orang-orang Malaysia tidak pernah merendah-merendahkan Indonesia.
Lalu bagaimana dengan Ambalat, Nurdin Top, Reog, dan Tari Pendet?
Kebenaran dan fakta sudah tidak penting lagi apabila sudah menyangkut harga diri. Baik untuk pihak Malaysia maupun Indonesia. Semuanya menjadi Indonesia Vs Malaysia.
Dan terciptalah dua tokoh antagonis di cerita masing-masing: Malaysia yang sombong dan 'ngelunjak' dan Indonesia yang tidak berpendidikan dan keterbelakang. Isu-isu tersebut berubah menjadi KITA vs MEREKA.Siapa 'kita' di sini juga kurang jelas. Apakah itu pemerintah? Rakyat? TKI? Pembakar hutan di Kalimantan? Mahasiswa Indonesia di Malaysia? Artis yang di plagiat? Manohara? Ahmad Dhani?
Siapakah 'mereka'? Pemerintah? Rakyat? Majikan yang mempekerjakan TKI? Orang Jawa yang sudah lama hidup dan lahir di Malaysia? Grup Nasyid Raihan? Siti Nurhaliza?
Stereotype ini memaksa rakyat di kedua negara untuk memilih kubu, apa pun itu masalahnya. Orang Malaysia yang berlomba-lomba mengumpulkan sumbangan di mesjid kita di saat Tsunami dulu kini masuk ke dalam kategori yang sama dengan artis plagiat dan pemilik blog www.ihateindon.blogspot.com
Lalu, TKI jujur yang bekerja keras di Malaysia untuk menghidupi keluarganya sekarang di cap kriminal, di samakan dan dengan pemilik situs www.malingsia.com
Perselisihan antar tetangga adalah hal yang lumrah. Tapi yang saya lihat belakangan ini, masalah yang tadinya spesifik sifatnya kini telah menyusup ke khalayak umum, meracuni rakyat biasa. Rakyat yang cinta tanah air dan tidak ingin martabat negaranya di injak-injak. Rasa cinta atau patriotisme inilah yang disalahgunakan.
Patriotisme: cinta bangsa, negara dan tanah airLalu, apakah anda seorang patriot atau orang yang Rasis?
Rasisme: Bangsa-KU lebih baik dari Bangsa-MU.
Isu-isu teritorial, hukum, dan perbedaan pendapat di antara kedua pemerintah adalah sesuatu yang penting. Sudah tanggung jawab kita untuk mendukung pemerintah dalam hal ini. Apabila Indonesia kalah dalam berdiplomasi, maka kita harus mendesak pemerintah kita untuk bekerja lebih baik. Bukannya menjatuhkan rakyat Malaysia secara keseluruhan. Itulah prinsip saya mengenai hal ini.
Namun blog ini bukan untuk itu. Memang ada perbedaan-perbedaan di antara kita. Tapi kita punya jauh lebih banyak persamaan. Di dalam blog ini saya akan memfokuskan untuk mencari persamaan-persamaan tersebut. Hal-hal yang membuat kita serumpun, bersaudara. Saya yakin, persamaan yang akan saya temukan akan tidak ada habisnya.
Janganlah perselisihan ini dibiarkan berkepanjangan. Pemerintah Indonesia dan Malaysia mempunyai tanggung jawab untuk merapatkan kembali hubungan yang telah rusak ini. Tapi apabila pemerintah tidak bisa diandalakan, biar rakyat yang bicara.
Biarpun suara yang keluar dari blog ini kecil dibanding ribuan suara kebencian, cacian dan makian "ihateindon" dan "malingsia", saya yakin, saya tidak sendirian.
Tak kenal maka tak sayang.
Kalau setelah kenal masih benci,
Anda belum benar-benar kenal.
Terima kasih,
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Subscribe to:
Posts (Atom)